RSS

AYAH (3)

Seorang ayah mengajak anaknya yang baru saja diwisuda dari perguruan tinggi ternama duduk duduk di pekarangan rumahnya sambil mengamati burung burung yang hinggap silih berganti di pohon. Si anak yang berhasil meraih predikat cum laude (sangat memuaskan) terus bercerita tentang keberhasilannya itu serta rencana rencana berikutnya setelah wisuda. Sang ayah dengan tekun mendengarkan cerita dan aspirasi anaknya ini dengan penuh haru dan bangga. Hingga tiba tiba si anak berhenti bercerita karena melihat seekor burung gereja hinggap di dahan pohon yang ada dekat mereka sambil berkicau.
Sang ayah lalu bertanya kepada si anak, “Nak, itu apa?”
Si anak menjawab kaget, “Masa ayah tidak tahu, itu kan burung gereja !”
Lalu mereka mengobrol lagi, sementara burung gereja itu masih di sana.
Di tengah perbincangan sang ayah bertanya lagi, “Nak, itu burung apa, sih ?”
Si anak kembali menjawab, “itu burung gereja, Yah.”
Perbincangan dilanjutkan lagi dan si ayah kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Si anak mulai kesal dan jawabannya hanya dua kata saja, “Burung gereja !”
Hingga hari semakin sore dan untuk terakhir kalinya sang ayah bertanya kepada anaknya, “Nak, apakah betul itu burung gereja ?”
Maka dengan kesal dan geram si anak berkata kepada ayahnya, “Masa ayah tidak tahu kalau itu burung gereja, dari tadi saya sudah katakan bahwa itu burung gereja. Ayah ini bodoh atau pura pura bodoh !”
Mendengar jawaban itu, sang ayah tersenyum sambil berpamitan untuk masuk ke dalam rumah sebentar untuk mengambil sesuatu. Sang anak yang tadinya bangga menceritakan dirinya, terpekur dengan muka kesal memandagi ayahnya yang masuk ke dalam rumah.
Selang beberapa menit, sang ayah keluar dengan membawa sebuah buku diary (catatan harian) yang sudah kotor dan lusuh. Dia menunjukkan sebuah catatan pribadinya kepada anaknya ini, yang dicatat kira kira tujuh belas tahun yang lalu, ketika anaknya berumur antara 4-5 tahun. Pada salah satu halaman terdapat tulisan tangan ayahnya yang menceritakan sebuah kisah.

” Ketika itu, aku dan Calvin anakku yang menginjak usia lima tahun sedang duduk duduk di beranda gubug kami. Sewaktu aku bercerita tentang pohon, tiba tiba seekor burung gereja hinggap di dahan pohon tersebut. Calvin bertanya apakah yang hinggap itu, dan akupun menjelaskan bahwa itu burung. Kemudian dia bertanya lagi burung apa, kujelaskan itu burung gereja. Calvin terus bertanya tentang rumah burung, makanannya, ibunya burung dan lain sebagainya. ”
” Tidak jarang dia bertanya berulang ulang untuk pertanyaan yang sama. Tebersit dalam hati kejengkelan, namun tetap kutahan karena di sinilah aku melatih diriku dan berusaha terus menerus untuk mengasihi anakku. ”

Penggalan tulisan harian sang ayah ini membuat sang anak yang duduk disampingnya menitikkan air mata, karena Calvin itu adalah dirinya sendiri.
(diambil dari buku Life is choice by Parlindungan Marpaung)

Ternyata ilmu dari perguruan tinggi masih sangat kurang untuk bisa memunculkan kearifan, kebijaksanaan. Karena kesemua itu hanya dapat diraih dari pengalaman dan sang guru “Waktu”

Baru sekarang hal tersebut bisa dirasakan secara lebih mendalam, setelah memiliki anak sendiri…….betapa kita masih terlalu dangkal “Ilmu” yang ada,

Azmi semoga ayah bisa belajar cepat dalam menimba Kearifan dan kebijaksanaan dari sang waktu yang terus bergulir tiada mengenal istilah time out atau berhenti sejenak atau sekedar memperlambat tempo.

Iklan
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 27 Mei 2011 in Renungan

 

Tag: , , ,

PILKADA (2)

Kabupaten Pekalongan baru saja menyelesaikan sebuah “Pesta Demokrasi”.
Alhamdulillah akhirnya Pesta dengan hinggar binggarnya sudah menyelesaikan satu babak pendahuluan.
Babak awal ini sudah terlewati dengan aman dan nyaman.
Nah sekarang babak selanjutnya, akankah menjalan aman dan lancar ????

Pernah terlintas dalam angan angan, seandainya di Indonesia tidak ada PILKADA. Kepala Daerah baik Bupati / walikota ataupun Gubernur merupakan jabatan karier, bukan lagi jabatan politis. Maybe ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan :

1. Jelas tidak perlu ada konflik horisontal di tengah masyarakat, selama dan pasca Pilkada. Konflik tersebut kalau hanya berlangsung sesaat bukanlah menjadi kendala, namun sering kali perbedaan tersebut menular dalam kehidupan bermasyarakat dan menjadi salah satu penentu pengambilan kebijakan. Pernah terjadi di suatu daerah, penentuan pemberian pinjaman PNPM, pemberian bantuan sosial melihat perbedaan dan konflik tersebut sebagai dasar (penentu). Apakah ini lucu??? Apakah kepala daerah, kepala desa hanya menjadi pemimpin mereka yang mendukung atau seluruh warga ???

2. Ada penghematan sekian belas milyar, yang dapat digulirkan di tengah masyarakat melalui berbagai program. Baik program yang memberdayakan perekonomian rakyat, ataupun perbaikan infrastrukturk yang langsung dapat dinikmati.

3. Keberadaan Kepala Daerah diharapkan dapat berjalan lebih profesional dan proporsional, karena kepala daerah tidak dibebankan pesan sponsor dari Partai, organisasi, Relawan dan lain sebagainya yang telah mengusung, mendukung, mendanai.

4. Keberadaan DPR benar benar sebagai penyeimbang dari Eksekutif, tidak ada interfensi berlebih bekenaan baju yang dipakai dibalik PSH atau PDH Bupati / walikota.

5. Konflik atau benturan benturan yang mungkin terjadi pada saat pemilihan kepala daerah, biarlah itu menjadi urusan pemerintah daerah Kabupaten / kota, Propinsi dan pusat. Masyarakat tidak perlu ikut dipusingkan, dihebohkan dengan hingar bingarnya.

ya, ini hanyalah sebuah pemikiran orang yang hanya mampu merangkumnya dalam blog ini…….yang hanya bermanfaat bagi diri sendiri mengeluarkan gemuruh uneg uneng. Namun maybe bisa berarti lebih …….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2011 in Opini

 

Potensi Yang Tersembunyi (Bisa karena terpaksa)

Ada aneknot :
Hari ini ada acara syukuran seorang Big Bos memasuki rumah barunya. Ia mengundang wartawan televisi, koran dan para kolega bisnisnya. Tujuan sang Big Bos adalah untuk memamerkan Istana barunya dengan segala macam keamanan yang bertingkat.

Pada akhir acara Big Bos membuat dua buah sayembara,
Sayembara pertama : barang siapa yang mampu menembus sistem keamanan yang ia buat tanpa diketahui akan diberi hadiah 100 juta rupiah
Sayembara kedua : barang siapa mampu melintasi kolam di depan rumah yang ada buayanya dengan selamat akan diberi hadiah apa saja yang dia minta.

Ternyata baru saja selesai Big Bos menyampaikan berita tersebut ternyata ada suara “BYUR” di kolam, dan setelah itu ada seseorang yang sedang berenang dengan sangat cepatnya yang diikuti kejaran buaya buaya lapar. Orang tersebut hampir saja tidak selamat, ia sampai di seberang dengan sepersekian detik lagi kakinya akan dimangsa buaya. Melihat aksi SPEKTAKULER tersebut, si Big Bos mendatangi orang tersebut dan berkata “Selamat, anda berhasil memenangkan Salah satu sayembara saya, sesuai dengan ketentuan yang ada, Anda mau minta apa ? ”
………sambil nggos nggos-an sang perenang menyambut ucapan selamat Big Bos

para pengunjung sangat ingin tahu apa yang akan diminta oleh perenang

ternyata apa yang dikatakan oleh perenang, ” AKU MAU TAHU SIAPA YANG MENDORONG SAYA MASUK KE DALAM KOLAM ???”

Dari anekdot tersebut sebenarnya kita bisa ambil pelajaran. Ternyata hal yang pada awalnya dianggap tidak mungkin, karena kondisi terpaksa (didorong seseorang) bisa menjadikan seseorang mengeluarkan potensi yang LUAR BIASA.

Jika kita diminta untuk menyelesaikan pekerjaan dengan diberi waktu 3 pekan atau 2 hari atau 3 jam sering kali kita akan menyelesaikan pekerjaan tersebut pada menit menit akhir menjelang batas waktu yang ditentukan.
Yang menjadi pokok pembahasan disini bukan waktu pengerjaan di akhir waktu,namun yang menjadi fokus adalah ternyata pekerjaan bisa selesai juga, ketika kita dipaksa oleh keadaan.

Potensi akan muncul pada saat kondisi sudah dipaksa, dipojokan.
Potensi tersebut seringkali diluar perkiraan kita. Kita jangan pernah PESIMIS dengan kemampuan kita. Pasti masih banyak embrio, potensi yang masih terpendam dalam diri kita yang siap Mencuat, siap Muncul dipermukaan.

Mari kita gali potensi yang ada pada kita, kita munculkan potensi tersebut sehingga mampu meningkatkan nilai jual kita.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 19 April 2011 in Opini

 

Sukses dan Bahagia

Sukses dan bahagia, pasti kita semua sangat mengharapkan keduanya hadir ditengah kita. Namun pernahkan kita menyadari bahwa antara keduanya tidaklah sama. Sebenarnya ada sebuah perbedaan di antara keduanya, walaupun sering kali kita menganggapnya sama saja. Kalau seseorang sukses pasti bahagia.

Ketika ada pertanyaan “Menurut Anda, Apa yang dimaksud dengan sukses ?”, maka akan beragam jawaban yang akan diperoleh,
– Sukses menurut petani adalah panen besar, harga tinggi.
– Sukses menurut pelajar/mahasiswa adalah juara umum, IP 3,4
– Sukses menurut Politikus adalah suara terbanyak, jumlah kursi.
– Sukses menurut saya adalah ????? (bingung menjawabnya)

Sukses adalah ketika kita dapat meraih apa yang kita inginkan atau mencapai tujuan kita. Sebanyak apapun yang kita raih atau kita capai jika bukan merupakan tujuan kita maka kita tidak pernah menyebutnya kesuksesan. Sebaliknya sekecil apapun keinginan atau tujuan kita, jika dapat kita raih, maka kita layak menepuk dada dan berteriak “Eureka”, “aku sukses”

Kemudian ketika ada pertanyaan, ” apa yang membuat anda bahagia ?”, maka jawaban yang muncul juga akan beragam pula.
– Bahagia menurut mahasiswa jika mendapatkan seoran guru yang menyenangkan, humoris, sistematis.
– Tidak sedikit Pelajar yang akan menjawab “pulang lebih awal”.
– Bahagia menurut petani adalah ketika hujan turun, tanaman selamat dari hama dan penyakit, panen sukses.

Mari kita cermati kisah berikut :
Tiga sahabat Abdullah, Budi, dan Cepot sedang kuliah di Mesir. Abdullah memang sudah dari MTs ingin sekolah di Mesir, Budi tidak ingin kuliah di Mesir, ia dipaksa Ortu, Cecep keinginan ke Mesir baru 2 bulan, karena ingin melanjutkan perjuangan bapaknya sebagai ulama.

Saat akan ujian
– Abdullah belajar giat agar naik tingkat
– Budi ogah ogahan, karena ingin tidak naik tingkat agar dipulangkan ke Indonesia
– Cepot biasa biasa saja, tidak naik tidak apa apa, tahun pertama sebagai masa adaptasi.

Pada saat pengumuman ujian
Abdullah nilai Jayyid jiddan. Namun saat telepon ke Indonesia diberitakan Ibunya meninggal.
Budi saat namanya tercantum tidak naik tingkat langsung mengejoskan tangan sambil teriak yes gue berhasil, sampai rumah tertawa gembira.
Cepot tidak lihat pengumuman karena tidak yakin, titip temannya untuk melihat pengumuman, ternyata hasilnya naik tingkat. Cepot berkata,” hah, masa sih, perasaan saya tidak optimal mengerjakan soalnya, yah akhirnya ………..”

Menurut anda siapa yang sukses dan siapa yang gagal ??
Menurut anda siapa yang bahagia dan siapa yang sedih ??

Kebanyakan orang menilai yang sukses adalah Abdullah dan Cepot. Sedangkan yang gagal adalah Budi.
Namun sebesarnya kalau kita merujuk definisi Sukses diatas maka dari kisah tersebut yang sukses adalah Abdullah dan Budi, yang gagal adalah Cepot.
Mengapa demikian ……
Abdullah punya keinginan naik tingkat dan itu telah diraihnya
Walaupun Budi tidak naik tingkat ia masuk ke dalam kategori sukses karena apa yang diraihnya sudah sesuai apa yang diharapkan, yaitu tidak naik tingkat.
Sedangkan Cepot “tidak ingin” naik tingkat, tetapi ternyata malah naik, maka tidak sesuai dengan keinginannya.

Kemudian yang bahagia ternyata hanya Budi, sedangkan Abdullah dan Cepot sedih.
Mengapa demikian ? Bahagia adalah ketika kita dapat meraih keinginan dan atau menghidari apa yang tidak kita inginkan. Budi bahagia karena setelah menelepon, ia dapat meraih keinginannya, yaitu diizinkan pulang dan kuliah di universitas sesuai keinginannya.
Abdullah walaupun lulus, kebahagiaan itu hilang karena kematian ibunya yang tidak ia inginkan tidak dapat ia hindari.
Sedangkan Cepot, ia tidak sedih juga tidak bahagia. Hal ini disebabkan karena apa yang ia raih bukan dari apa yang ia inginkan.

APAKAH SEKARANG KITA SUDAH BAHAGIA ???
APAKAH SEKARANG KITA SUDAH SUKSES ???

Semoga saat ini kita sudah berada dalam jalur menuju kebahagiaan dan kesuksesan.

Berkenaan dengan bahagia Universitas Rochester, Amerika Serikat melakukan riset terhadap 147 alumni dari dua perguruan tinggi. Mereka dinilai segi kepuasan hidup mereka, harga diri, perasaan khawatir, tanda tanda adanya perasaan tertekan (stress) pada raga, serta pengalaman kejiwaan yang baik dan buruk. Penelitian dilakukan 2 kali, tahun pertama dan kedua setelah kelulusan.

Pengelompokan pertanyaan
Pertama : Aspirasi intrinsik (cita cita yang bersumber dari dalam diri)
yaitu yang berhubungan dengan persahabatan yang erat dan langgeng, serta sikap menolong memperbaiki hidup orang lain.
Kedua : Aspirasi ekstrinsik (cita cita yang bersumber dari luar)
yaitu yang berkaitan dengan keinginan menjadi seorang yang kaya dan mendapatkan pujian.

Hasil penelitian
Menunjukkan bahwa cita cita intrinsik lebih membuat orang bahagia dari pada ekstrinsik. Dengan mencapai tujuan intrinsik, mereka telah memenuhi kebutuhan dasar kejiwaan. Artinya menjadi sukses dan kaya di satu sisi, ternyata tak banyak membawa kebahagiaan dant idak memberikan kepuasan hati. Bahkan usaha menggapai kenikmatan duniawi ini dapat menimbulkan rasa malu, marah, gelisah, sampai gangguan raga seperti sakit kepala, sakit perut dan kehilangan tenaga.

pencapaian tujuan hidup intrinsik berdampak lebih baik bagi kesehatan jiwa. Sedangkan pencapaian cita cita ekstrinsik merupakan pertanda terjangkitinya penyakit kejiwaan atau adanya ketidakbahagiaan.

Cita cita intrinsik yang berupa hubungan antar manusia yang dilandasi cinta kasih dan kepedulian, serta dimilikinya keahlian dan ketrampilan melalui perjuangan berat, memiliki manfaat yang terasa langgeng. Sebaliknya cita cita ekstrinsik berupa penumpukan harta dan pujian, dirasakan cepat memudar dan segera terlupakan.

Orang orang yang memiliki tujuan hidup intrinsik, yakni yang menaruh perhatian pada perkembangan pribadi, erat hubungan antar manusia, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat, dan kesehatan raga, lebih merasakan adanya kesejahteraan, prasangka baik terhadap diri mereka sendiri, pertalian yang lebih erat dengan sesama, dan lebih sedikit memiliki tanda tanda stres pada tubuh mereka

Kesimpulan :
Dunia dan isinya bukanlah sesuatu yang kekal. Manusia hendaknya lebih mengutamakan amal baik. Karena inilah yang telah terbukti secara ilmiah dapat memberikan kebahagiaan dalam hidup, sebagaimana dalam firman Allah dalam QS Al Kahfi 45-46 :
45. Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, Maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, Kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.
46. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Sumber :
Artikel Bahagia dengan berbuat baik dari Majalah Ar Risalah No 104/Vol IX/8 Shafar-Rabiul Awwal 1431 H
Buku Quranic Quotient – Menggali dan melejitkan Potensi diri melalui Al Qur’an karangan Udo Yamin Efendi Majdi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 April 2011 in Renungan

 

AMBIGU

Jika ada seorang bayi yang belum menangis sesaat setelah dilahirkan, maka pantatnya akan dipukul agar Sang bayi menangis. Saat melihat bayi tersebut menangis maka orang orang disekitar Sang bayi akan tersenyum, bahkan ada yang tertawa bahagia. Namun ketika saat ini disamping anda ada seseorang yang sedang menangis maka kita akan segera memberi cap “cengeng” apa lagi jika dia adalah seorang pria dewasa.

Pada suatu pagi, saat matahari sudah beranjak dari peraduannya seorang bocah bernama ” Menik ” dibangunkan oleh Ibunya. “mBak…….. bangun hari sudah siang !, nanti berangkat ke sekolahnya terlambat sayang.”
Namun keesokan harinya, saat jarum pendek yang ada di dalam kotak di pojok rumah yang setiap setengah jam berdenting, sudah melewati angka 8, saat ” Menik “ mengambil Es Krim dari dalam kulkas, kali ini sang Ayah memberi komentar, “Makan Esnya jangan sekarang mBak, masih pagi !!”

Saat itu pasti bocah polos tersebut heran, dan berpikir yang salah itu Ayah atau Ibu. Kemarin jam 6 dikatakan sudah siang , eh sekarang sudah jam 8 kok masih dikatakan pagi.

Apakah kita pernah mengalami hal seperti itu, AMBIGU ?????
Tanpa kita sadari pasti kita pernah mengalami pengalaman Ambigu, entah kita sebagai Obyek atau bahkan sebagai Subyek. Ambigu, kadang kala terasa sangat menyakitkan. Memiliki dua standart tersebut membuat kita seakan akan dianaktirikan. Mungkin ini hanya sebuah aneknot, namun hal tersebut sering menggelitik kita.
Ada aneknot berkenaan dengan Ambigu :
Ketika bawahan membutuhkan waktu untuk bekerja dikatakan lamban, namun jika atasan membutuhkan waktu lama dikatakan bekerja dengan teliti, cermat

Ketika bawahan sedang tidak bekerja dikatakan bermalas malasan, namun jika atasan sedang tidak bekerja dikatakan sedang mencari ide

Ketika bawahan melakukan susuatu tanpa diperintah dikatakan sok pintar, namun jika atasan yang melakukannya dikatakan memiliki inisiatif

Ketika bawahan mencoba menyenangkan orang lain dikatakan menjilat, namun jika atasan mencoba menyenangkan orang lain dikatakan sedang bekerjasama, negoisasi

Ketika bawahan melakukan kebaikan atasan tidak pernah ingat, namun ketika bawahan melakukan kesalahan atasan tidak pernah lupa

Ketika bawahan berbuat kesalahan dikatakan bodoh atau teledor, namun jika atasan yang melakukan kesalahan dikatakan itu manusiawi

Maybe AMBIGU merupakan salah satu jalan menuju apa yang dinamakan Kolusi
Namun kita perlu juga menyadari bahwa kadang memang AMBIGU perlu dilakukan, bahkan merupakan salah satu kebijakan yang paling tepat untuk suatu kondisi tertentu.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 13 April 2011 in Opini

 

PILKADA

Saat ini di Indonesia sebagian besar sudah memasuki Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung yang kedua. Ketika kita coba menghitung untung ruginya Pemilihan secara langsung, akan muncul beberapa alasan yang Pro dan Kontra.

Kontra :

Alasan Pertama :
Jika kita inventarisasi ada beberapa sebab mengapa kurang sreg dengan Pilkada. Yang paling mudah disimak adalah munculnya permasalahan akibat gesekan gesekan selama Pilkada, baik antara Calon, antara pendukung, antar relawan, dengan KPU dan Panwas.
Ekses ini dirasakan tidak hanya saat pendaftaran sampai pelantikan, namun dibeberapa daerah dirasakan sampai beberapa tahun, bahkan sampai ganti periode. Kalau dibandingkan dengan “ilmu” yang diperoleh saat pelajaran PMP dahulu, bahwa bangsa Indonesia ramah tamah, nilai kegotongroyongannya tinggi dan lain lain, semua itu seakan sirna melihat demikian “pendeknya sumbu” mereka yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan Pilkada.

Alasan Kedua :
Jelas alasan finansial. Berapa banyak anggaran yang beredar dalam rangka “mensukseskan” Pilkada. Seandainya anggaran tersebut dibelikan krupuk, dan ditumpuk mungkin sudah bisa mengantarkan sampai ke bulan, atau bahkan sampai planet pluto.
Masih berkaitan dengan Uang, ternyata masih banyak orang Indonesia yang memiliki deposit, sumber dana yang luar biasa. Ya seandainya itu dikelola oleh Rumah Zakat, maybe ……………..

Pro :
Alasan Pertama :
Memberikan kesempatan kerja lebih luas kepada masyarakat, dari yang melipat kertas suara, menjadi saksi, menjadi pecut, menjadi panitia pemilihan, mencetak leafleat, membuat spanduk, membuat kaos, menjadi Juru Kampanye, memberi kesempatan “artis dadakan” menghibur konstituennya.

Alasan Kedua :
Memberikan pembelajaran kepada Masyarakat tentang nilai nilai Demokrasi. Masyakarat diberi kesempatan secara penuh untuk dapat menentukan siapa yang akan menjadi Nakhoda dalam membangun daerahnya. Dengan demikian, masyarakat dapat memilih pemimpin yang mengerti potensi dan kearifan lokal.

Alasan Ketiga :
Sedikit mengurangi keangkuhan, rasa arogan dari Anggota Dewan dibandingkan jika dalam penentuan Kepala Daerah melalui votting Anggota Dewan sebagaimana aturan sebelumnya.

Alasan Keempat :
Membuka kesempatan bagi mereka yang tertarik masuk ke dalam bursa, walaupun masih asing dengan dunia birokrasi maupun politik.

Beberapa alasan tersebut baru sebagian saja yang dapat diungkapkan, dan pasti masih banyak alasan alasan lainnya.
Setiap kebijakan yang digulirkan oleh pemerintah akan menimbulkan konsekuensi konsekuensi logis. Baik itu berupa manfaat, dampak dan kendala.

Semoga ……..ke depan muncul formulasi terbaik di dalam memilih pemimpin.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 13 April 2011 in Opini

 

Ayahku (2)

Ayah, aku pernah sangat jengkel padamu. Beberapa kali, seingatku, bukan karena engkau menolak permintaanku, tetapi jawaban khas itu ,”Nanti ya, tunggu gajian, tanggal muda,” Seolah engkau selalu memutar kembali redaksi jawaban itu untuk setiap rengekan anak anakmu. Waktu itu aku tak sepenuhnya paham bahwa isi kantongmu sangat bergantung pada tua mudanya tanggal.

Aku selalu jengkel kenapa engkau memilih toko itu. Toko sepatu tak bernama, ruangannya kecil, koleksinya sangat terbatas. Selalu tak kutemukan merek sepatu yang kuinginkan. Aku jengkel, tapi belakangan aku tahu toko itulah yang sangat mengerti kondisi kantong seorang PNS golongan rendah dengan empat orang anak. Di toko itu, engkau bisa mengambil barang dan dibayar sebulan kemudian.

Suatu hari kami anak anaknya, berkomplot. Kami sepakat merengek, minta dibelikan pesawat televisi. Engkau tak menolak, tapi juga tak berkata kata. Jawaban khasmu itu entah hilang kemana. Sangat mengesalkan, karena bahkan tak ada janji untuk kami. Sampai suatu hari beberapa bulan kemudian, engkau memberi kejutan. Sebuah televisi hitam putih itu sudah berada di dalam almari rumah.

Kami baru tahu kemudian, selama ini engkau menyisihkan gajimu yang sudah terpotong untuk berbagai tagihan itu. Ditambah hasil menjual beberapa koleksi jam peninggalan kakek, engkau membelikan kami televisi. Padahal kami semua tahu, pada jam jam itu tersimpan kenanganmu yang dalam bersama kakek.

Ayah aku selalu ingat janji janjimu untuk menyekolahkanku di tempat terbaik. Engkau menyebut sebuah sekolah dengan asramanya yang mewah. Dalam sebuah piknik, engkau mengajakku ke sekolah itu. Gedungnya megah, segala prasarananya lengkap. Tak sabar aku ingin bergabung di dalamnya. Hingga suatu saat aku siap, engkau bahkan tak lagi menyebut nama sekolah itu. Tapi aku tak lagi jengkel, karena kemudian kutahu, biaya pendidikan di sekolah itu sangat mahal. Seluruh gajimu akan habis untuk biaya per bulannya. Jelas tak mungkin bagiku masuk ke sekolah itu…..
(Dikutip dari Majalah Tarbawi Edisi Khusus : Ayah punya caranya sendiri dalam mencintai kita)

Walaupun sekarang dirimu sudah terbaring dengan damai di bumi Allah, sehingga kita tidak bisa berjumpa lagi seperti dulu. Namun semoga kita bisa bertemu lagi jika saatnya telah tiba. Berjumpa di surganya Allah. Amin.

Walaupun sekarang kami tidak bisa melihat senyummu lagi, namun telah banyak petuah, banyak “lifeskill” telah kami miliki darimu yang mampu membuat kami merasa Ayah masih berada di dekat kami.

Doa kami anak anakmu

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 12 April 2011 in Renungan